Kelebihan dan Konsekuensi Kerja Fulltime Freelance

Bismillahirrahmanirrahim.

Ketika ada orang yang bertanya kepada saya :

  • “Mas kerja di mana?”
  • Saya jawab “Saya kerja dirumah pak.”
  • Ditanya lagi “Wah kerja apa dirumah?”
  • Saya jawab lagi “Saya buat web dan program komputer pak. Saya programmer, freelance, pak.”
  • Terus kata bapaknya. “Wah freelance ya, kerja dirumah, enak bisa santai ngatur waktu sendiri, ga kena macet dan hujan panas di jalanan.”
  • Saya jawab “Iya pak, alhamdulillah. Bisa bantu isteri ke pasar dan ngangkat jemuran.”
    Kemudian diskusi bisa berlanjut pendek atau panjang sesuai rasa penasaran Bapaknya.

Kebanyakan pada diskusi seperti itu, orang melihat seorang fulltime freelancer sebagai pekerjaan yang enak, pekerjaan yang diharapkan oleh semua orang.

Nah kali ini saya akan coba “nge-list” kelebihan dan konsekuensi jika kita bekerja freelance secara fulltime. Supaya teman-teman pembaca ada gambaran enaknya apa, dan konsekuensinya apa.

Di sini yang akan kita bahas adalah pekerjaan Freelance Web Developer yang saya jalani, mungkin ada beberapa perbedaan dengan jenis pekerjaan freelance lainnya. Mudah-mudahan perbedaannya tidak terlalu jauh.

Kelebihan Freelance Fulltime

1. Kebebasan mengelola waktu kerja

Ya, keuntungan utama nya adalah, kita “bebas” mengelola waktu kerja. Kapan mau kerja, kapan mau istirahat, kapan mau piknik, kita yang atur sendiri.

Tetapi perlu diingat, “bebas” disini bukan berarti jam kerja tidak teratur, suka-suka, kerja kapan mau dan kapan malas, bukan begitu. Waktu kerja itu harus dikelola, harus ada target progress, setidaknya kita ada perencanaan progress per minggu untuk setiap project yang dikerjakan, dan itu harus konsisten.

Pekerjaan seperti ini membuat dan mengharuskan kita mengelola waktu dengan baik, agar semua pekerjaan terlaksana sesuai rencana. Ada dua hal yang minimal kita terapkan dalam bekerja freelance :

  1. Waktu kerja harian, setiap hari kita bekerja dari jam berapa sampai jam berapa.
  2. Perencanaan/target progress per minggu, dalam mengerjakan project, kita harus punya target, setidaknya perminggu, pekerjaan bisa selesai on target atau bahkan lebih cepat dari target.

Insyaallah tentang pengelolaan waktu kerja, kita bisa bahas di artikel tersendiri nanti.

2. Dapat bekerja di mana saja

Pekerjaan seperti ini (fulltime freelancer) tidak mengharuskan kita bekerja di satu tempat yang tetap, bisa dirumah, di cafe (kata orang-orang), sewa tempat seperti co-working space, atau di mana saja selama bisa membuat kita fokus kerja dan terhubung internet.

Tetapi walaupun bebas kerja di mana saja, sebaiknya ada tempat kerja yang pasti. Misalnya di pojokan rumah kita punya meja kerja, atau ada kamar kerja sendiri. Jadi walaupun kita bisa kerja di mana saja, kita ada tempat kerja yang tetap.

Saran dari saya, buat tempat kerja senyaman mungkin. Atur tinggi meja yang pas. Jika ada rejeki yang cukup, beli kursi yang nyaman dan empuk, ada senderannya, seperti kursi direktur itu. Saya sendiri malah potong kaki meja agar tingginya pas dengan tempat duduk (istilah kerennya dibikin “ergonomis”). Intinya untuk membuat kita nyaman saat kerja, karena sebagian besar waktu kita seharian duduk di situ. :)

3. Membangun hubungan dengan klien

Pekerjaan Freelancer umumnya berhubungan langsung dengan klien (pemilik project). Ada banyak pengalaman positif yang kita dapatkan jika terhubung langsung dengan klien :

  • Mengetahui ide-ide baru, atau ide lama dengan konsep baru.
  • Mengetahui lebih jelas, tujuan dan manfaat project yang akan dikerjakan.
  • Melatih untuk komunikasi profesional, bekerja profesional, karena kita pasti dinilai langsung oleh klien.
  • Kemungkinan kerjasama jangka panjang.
  • Tahu karakter klien.

Jadi manfaat dari hubungan langsung dengan klien, kita tahu persis karakter orang yang memberi kita pekerjaan, dan klien juga tahu persis karakter orang yang membantu projectnya.

Perlu diingat, ini akan menjadi testimoni dari klien untuk kita, hubungan yang baik membuahkan hasil yang baik, hubungan kurang baik membuahkan hasil yang kurang baik.

Bagaimana cara membangun hubungan yang baik dengan klien? Insyaallah akan kita bahas pada artikel tersendiri.

4. Dapat memilih pekerjaan

Wah, “memilih pekerjaan?” Kedengarannya sedap ini. Yap, artinya kita misa memilih (menyanggupi) pekerjaan sesuai keinginan dan kemampuan kita. Ketika ada project yang telah kita diskusikan dengan klien, biasanya saya mempertimbangkan :

  • Apakah sesuai dengan kemampuan/skill yang saya miliki?
  • Apakah sesuai dengan kemampuan jadwal dan memenuhi target deadline klien?
  • Apakah sesuai dengan anggaran biaya klien?

Di sini kita berhak menentukan apakah kita lanjut atau tidak untuk mengerjakan project itu.

5. Melatih attitude sebagai “business owner”

Sama seperti pemilik usaha, sebagai freelancer kita berperan sebagai pemilik bisnis. Sehingga attitude atau prilaku kita harus sesuai selayaknya pemilik usaha. Siapapun yang berhubungan dengan kita, akan menilai kita.

  • Attitude kita dalam bekerja dan hubungan dengan klien akan kembali kepada kita.
  • Hal-hal yang positif dan negatif kembali kepada kita.
  • Attitude yang baik akan menghasilkan testimoni yang baik, juga sebaliknya.
  • Portfolio dan testimoni adalah hal yang penting untuk modal marketing.
  • Nasib dari bisnis dan pekerjaan kita akan ditentukan oleh attitude cara kita bekerja.

Pekerjaan ini juga melatih kita agar bertanggung jawab secara menyeluruh. Tanggung jawab memang konsekuensi dari semua jenis pekerjaan, tatapi sebagai freelancer, seluruh project menjadi tanggung jawab kita, diantaranya :

  • Administrasi Project (pengelolaan email, bukti pembayaran, bukti diskusi).
  • Mengerjakan progress pekerjaan.
  • Laporan Progress.
  • Penyelesaian pekerjaan.
  • Problem-problem dalam project.
  • Data-data penting/rahasia milik klien.

Semua jadi tanggung jawab kita. Ini menjadi latihan soft-skill yang sangat bagus untuk kita. Sekali lagi, nasib bisnis akan ditentukan oleh attitude cara kita bekerja. :)

6. Kesempatan, ruang dan waktu untuk berkembang terbuka lebar

Nah karena kita bekerja sendiri, tidak ada yang mengatur “kapan kita ngapain”. Mau berkembang atau tetap begitu-begitu saja, itu tergantung kemauan diri sendiri.

Kita bisa mengatur jadwal agar bisa mempelajari hal-hal yang baru. Saya biasa mengatur waktu untuk belajar hal baru, terutama hal-hal yang menurut saya penting untuk produktifitas kerja ke depan.

Tetapi perlu diingat, jangan jadikan klien sebagai “kelinci percobaan”. Misalnya kita baru belajar suatu bahasa pemrograman atau teknologi yang sedang “trend”, jangan langsung digunakan untuk project klien. Pastikan dulu teknologi itu efisien untuk project tersebut, baik dari sisi waktu pengerjaan, dan kemungkinan problem di kemudian hari. Jika sudah yakin, silakan diterapkan. Jika belum, gunakan yang sudah kita punya.

Konsekuensi Freelance Fulltime

1. Memulai dengan (relatif) sulit

Beberapa hal yang saya temui ketika memulai bekerja sebagai freelance web developer:

  1. Semua solusi harus diupayakan sendiri, tidak bisa mengandalkan orang lain karena ini pekerjaan kita. Ketika ada problem, cari solusinya sendiri, ini tanggung jawab kita. Karena itu kita harus memastikan bahwa kita memilik skill yang cukup untuk target pekerjaan kita.
  2. Setiap orang pasti pernah jadi “newbie”, karena kita belum ada pengalaman, belum tahu apa-apa tentang bekerja sendiri.
  3. Tidak sedikit project dengan bayaran (relatif) rendah, lihat point kedua di atas. :)
  4. Tidak setiap rencana akan berjalan sesuai target, terutama kali pertama. Lihat lagi point kedua, semua yang kita rencanakan bisa berantakan karena berbagai hal yang terjadi ketika project sedang dikerjakan.
  5. Di awal kita harus fokus mengumpulkan portfolio dan testimoni.
    Portfolio, bisa dibilang, pekerjaan yang bisa kita banggakan untuk ditunjukkan kepada calon klien.
    Testimoni adalah bagaimana perasaan klien setelah kita mengerjakan projectnya. Apakah senang, biasa saja, atau suram?

Memang semua dimulai dengan relatif sulit, tetapi dari situ kita belajar :

  1. Oh, Supaya tidak kejadian begini, caranya harus begini.
  2. Oh, ternyata klien itu tidak suka kalau saya begini, berarti saya harus begitu.
  3. Oh, sepertinya harus pakai cara ini biar efisien nih.

Cukup jelas ya? :D

2. Penghasilan tidak tetap

Pekerjaan fulltime frelancer adalah “based on demand”. Ketika ada order, maka ada pekerjaan, dan ada pemasukan. Ketika tidak ada order, maka tidak ada pekerjaan, dan tidak ada pemasukan. Jadi tidak ada tanggal tetap untuk gajian.

Jumlah penghasilan juga tidak tetap, nilai project itu kadang relatif besar, kadang relatif kecil, tergantung yang disepakati.

So, karena tidak ada slip gaji, jadinya sulit mengajukan kredit barang, hahaha..
Mau ajukan kredit laptop tidak bisa, ajukan kredit motor tidak bisa. Mesti pintar nabung agar bisa beli barang dengan tunai.

Yahh.. gitu lah.

3. Terkadang menghadapi klien yang sulit

Klien yang sulit itu kriterianya (menurut saya) :

  1. Tidak mau paham kondisi sulit (bukan tidak paham ya, tapi tidak mau).
  2. Suka menunda pembayaran.
  3. “Rajin” tanya progress.

Tidak ada klien yang paket lengkap seperti itu, biasanya hanya salah satu saja per klien.

Kenapa “rajin” tanya progress itu (menurut saya) termasuk klien yang sulit, karena setiap awal kerja, saya biasanya buat kesepakatan frekuensi laporan progress, misalnya per minggu atau per 3 hari. Nah, kategori ini adalah klien yang suka tanya progress sebelum waktunya. :)

Bagaimanapun kondisinya, ketika sudah sepakat, kita harus konsekuen dengan kesepakatan. Sadari bahwa :

  • Tidak semua hal berjalan sesuai rencana.
  • Menjadi pelajaran dan modal kita pada project selanjutnya.
  • Kita tetap bertanggung jawab hingga project selesai.

Alhamdulillah sedikit sekali saya bekerja dengan klien yang sulit, karena sudah banyak dapat pelajaran sebelumnya. Sekali lagi kita sebagai freelancer berhak menentukan “lanjut” atau “tidak” untuk mengerjakan sebuah project. Silakan pertimbangkan sebelum menyanggupi pekerjaan. :)

4. Harus menolak pekerjaan ketika sedang padat

Kalau kita sudah dikenal orang, besar kemungkinan kita akan mendapat tawaran project, apalagi kalau dia (calon klien) dapat rekomendasi dari temannya yang sudah menggunakan jasa kita (ini pentingnya testimoni nih).

Jadi, ketika ada tawaran project datang, apa yang harus kita lakukan?

  • Diskusikan spesifikasi dan target waktu calon project baru.
  • Periksa jadwal dan target project yang berjalan.

Saran dari saya, jangan menerima pekerjaan diluar kemampuan kita, yaitu di sisi skill dan jadwal waktu. Jangan berani menumpuk pekerjaan jika kita belum disiplin waktu.

5. Kerja bergantung dengan Internet

Saya sering lihat orang-orang di media sosial mengeluhkan layanan penyedia internet. Sebagian besar pekerja freelance bergantung dengan internet. Termasuk saya, yang sangat mengandalkan internet untuk bekerja.

Apa saya lakukan untuk menanggulangi masalah internet?

  1. Lakukan experimen beberapa layanan internet, terutama di tempat kerja kita yang tetap.
  2. Pilih layanan internet yang tetap sesuai kemampuan. Jadi jangan mengandalkan yang harus gonta-ganti kartu, pilih satu yang tetap sesuai kemampuan.
  3. Kategorikan item-item pekerjaan yang membutuhkan internet dan yang tidak memubutuhkan internet. Jadi ketika internet bermasalah, fokus kerjakan item yang tidak perlu internet.
  4. Manfaatkan waktu luang dengan “piknik”. Kalau tidak ada yang bisa dikerjakan silakan piknik, dengan main game, atau nonton anime kesukaan. Yah, namanya ga bisa kerja, gimana dong? :)
6. Sering dikejar deadline

Nah ini yang sering dialami oleh freelancer, mepet deadline. :)

Cara meminimalisir kondisi “dikejar deadline” bagimana? Kuncinya disiplin, yaitu disiplin waktu dan laporan progress secara rutin sesuai kesepakatan. Jangan menyalahkan klien jika memberi deadline mepet (sejak awal), kalau memang kita tidak sanggup, jangan disepkati.

Apa saja hal yang sering menyebabkan kita dikejar deadline?

  • Bekerja tanpa jadwal yang jelas.
  • Keliru membuat jadwal.
  • Tidak disiplin melaporkan progress secara rutin.
  • Tidak disiplin dengan jadwal yang telah dibuat.
  • Project yang dikerjakan terlalu banyak (beberapa project dalam satu waktu).
  • Kondisi badan kurang fit/sakit.
  • Terlalu banyak “piknik”.

Tapi ada sisi positif yang kita ambil dari “dikejar deadline” ini, kita jadi tahu bahwa dikejar deadline itu tidak nyaman. Jadikan hal ini sebagai pelajaran untuk project selanjutnya. Artinya jangan diulangi lagi.

Kesimpulan

Oke, lumayan panjang lebar pembahasan kita, kesimpulannya :

  1. Setiap pekerjaan ada plus minusnya, ada kenyamaman dan resikonya.
  2. Apakah saya nyaman bekerja seperti sekarang? Alhamdulillah, seperti anggapan banyak orang, nyaman.
  3. Kenapa di sini saya sebut kelebihan dan konsekuensi, bukan kelebihan dan kekurangan? Karena saya tidak melihat kekurangan dari pekerjaan saya sekarang.
    Semua hal yang kurang baik yang saya dapatkan itu, sangat bermanfaat untuk saya pribadi agar bekerja lebih baik, lebih efisien, dan lebih aman. Jadi pelajaran.
  4. Semua hal yang kita bahas diatas berdasarkan pengalaman yang saya temukan selama bekerja freelance.

Demikian teman-teman, semoga menjadi bahan bacaan yang bermanfaat, terima kasih atas waktunya.

comments powered by Disqus